Arifwr's Blog

Buat berbagi ….

Tantangan Integrasi Data Dalam SIMPUS

Posted by arifwr on 06/09/2009

Kedudukan SIMPUS Dalam SIKNAS

Puskesmas merupakan salah satu institusi pemerintah yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di suatu wilayah tertentu. Lingkup pelayanan yang begitu luas, tentunya berpotensi menimbulkan permasalahan yang kompleks sehingga keberadaan system informasi yang akurat dan handal mutlak diperlukan. Sistem informasi diperlukan untuk mengumpulkan, mencatat, mengelola, menyimpan dan memanfaatkan data untuk menyelesaikan masalah-masalah kesehatan masyarakat. Namun banyaknya variabel di puskemas turut menentukan kecepatan arus informasi yang dibutuhkan oleh pengguna di lingkungan puskesmas.

Saat ini pengumpulan data di puskesmas sebagian besar masih dikerjakan secara manual, dengan melakukan pencatatan pada buku-buku registrasi dan mengisi beberapa jenis formulir. Metode ini tidak efisien dari sisi waktu dan tenaga karena seringkali terjadi pengulangan pekerjaan yang sama untuk beberapa formulir yang berbeda. Masih sedikit puskesmas yang menggunakan komputer untuk mengolah data, apalagi memanfaatkan data bagi kepentingan kepentingan pengambilan keputusan.

Sebenarnya sebagian besar puskesmas telah memiliki komputer, namun penggunaannya dalam sistem informasi puskesmas belum optimal, lebih banyak berperan sebagai mesin ketik. Disamping itu keterbatasan kemampuan dalam menggunakan komputer juga menjadi hambatan dalam komputerisasi sistem informasi puskesmas.

Kepmenkes No. 511 Tahun 2002 tentang Strategi Pengembangan SIKNAS di Era Otonomi Daerah menegaskan bahwa sasaran pengembangan SIKNAS pada akhir tahun 2009 adalah telah tersedia dan dimanfaatkan data dan informasi kesehatan yang akurat, tepat dan cepat untuk pengambilan keputusan/kebijakan bidang kesehatan di kabupaten/kota, provinsi dan depkes dengan mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi. Indikatornya adalah terintegrasinya data dan informasi dari kabupaten/kota ke dinas kesehatan provinsi dan depkes.

Data dan informasi yang terintegrasi di kabupaten/kota berasal dari puskesmas yang diolah dengan system pencatatan dan pelaporan puskesmas atau SIMPUS sehingga kualitas data dan informasi di puskesmas menjadi sangat penting kedudukannya dalam pengambilan keputusan di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan tingkat nasional. Data dan informasi yang tersedia diharapkan dapat berperan sebagai health intelligence.

Data dan informasi yang digunakan sebagai health intelligence sangat bermanfaat dalam mengkritisi sebuah keputusan, membuat panduan dalam pengambilan keputusan, membuat interpretasi sebuah fenomena secara detail dan mendalam serta sebagai alert dan reminder untuk masalah-masalah kesehatan potensial.

SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas) adalah suatu perangkat lunak yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. SIMPUS berfungsi melayani pengolahan data , profil dari pasien, membantu mencari data untuk pelaporan dan juga mendukung berbagai keputusan di puskesmas.

Data dan informasi yang diintergrasikan dalam SIKDA kabupaten/kota berasal dari SIMPUS, selanjutnya SIKDA kabupaten/kota merupakan subsistem dari SIKDA provinsi, SIKDA provinsi merupakan subsistem dari SIKNAS sehingga antara SIMPUS, SIKDA kabupaten/kota, SIKDA provinsi dan SIKNAS merupakan sebuah keterkaitan administrasi yang saling mendukung untuk menghasilkan data dan informasi yang terintegrasi dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan/kebijakan kesehatan.

Beberapa Isu Aktual Dalam Pengembangan SIMPUS

Pengembangan SIMPUS di beberapa daerah masih banyak menemui hambatan. Ada beberapa isu aktual terkait dengan integrasi data, yaitu :

1. Data yang tersedia belum terintegrasi dan sulit memperoleh data yang bermutu dan terkini.
Integrasi data dan informasi dari berbagai unit pelayanan yang ada di puskesmas baik pelayanan intra gedung maupun ekstra gedung belum dapat dilakukan sepenuhnya karena berbagai keterbatasan. Data dan informasi dari puskesmas pembantu dan puskesmas keliling belum dapat diintegrasikan dengan cepat dan tepat waktu. Integritas data yang tersedia secara real time merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas data.

Disamping itu proses entry data juga sangat berpengaruh terhadap kualitas data. Petugas entry data di puskesmas biasanya adalah staf yang juga bertugas dalam pelayanan sehingga terjadi rangkap pekerjaan. Apabila jumlah pasien sedikit, entry data dapat dilakukan dengan segera, tetapi apabila jumlah pasien cukup banyak maka proses entry data masih dirasakan merepotkan.

Kedua faktor di atas sangat berpengaruh terhadap kualitas data dan informasi yang dihasilkan. Data dan informasi perlu tersedia dengan segera, cepat dan tepat waktu agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

2. Pemanfaatan data belum optimal.
Data dan informasi yang tersedia sebenarnya masih dapat digunakan untuk tujuan yang lebih luas sesuai dengan peran data dan informasi sebagai health intelligence, misalnya melihat sebaran penyakit berdasarkan peta dan waktu, reminder untuk pemeriksaan kehamilan dan imunisasi balita, pengenalan terhadap potensi KLB, kenaikan pangkat bagi pegawai dan masih banyak aplikasi yang dapat digunakan berdasarkan data dan informasi yang tersedia.

3. Keterbatasan SDM.
Aspek SDM merupakan aspek penting yang sangat menentukan perkembangan SIMPUS, juga terhadap kualitas data yang dihasilkan. Pengembangan SIMPUS seringkali dihadapkan kepada keterbatasan SDM berupa keterbatasan pemahaman staf terhadap teknologi komputer dan system informasi, tidak adanya staf yang mempunyai latar belakang pendidikan komputer dan tidak ada staf khusus untuk entry data. Keterbatasan SDM juga akan sangat mempengaruhi kualitas data yang dihasilkan SIMPUS.

Proses pengolahan data SIMPUS memerlukan SDM yang mempunyai kapabilitas memadai terkait dengan system informasi mulai dari tahap pengumpulan data, pengiriman data, pengolahan data dan analisis data. Idealnya pengembangan system informasi memerlukan operator komputer, ahli jaringan, pengelola database, programmer, analis sistem dan IT Project Manager. Namun perlu dipertimbangkan juga penempatan tenaga-tenaga tersebut, siapa yang ditempatkan di puskesmas dan siapa yang cukup ditempatkan di dinas kesehatan.


Tantangan Dalam Integrasi Data SIMPUS

Integrasi data dan informasi di SIKDA kabupaten/kota sangat penting agar data dan informasi dapat dimanfaatkan secara optimal bagi pengambilan keputusan. Integrasi data ini mensyaratkan bahwa data dan informasi yang dikumpulkan dari puskesmas yang berada di wilayahnya merupakan data yang baik kualitasnya serta merupakan data yang terintegrasi dari seluruh unit pelayanan yang ada di puskesmas.

SIMPUS terdiri dari beberapa modul. Modul-modul tersebut berada pada beberapa ruangan yang berbeda. Secara teknis membutuhkan jaringan antar komputer. Data yang terkumpul disimpan dalam sebuah server.

Perlu dipikirkan juga pengumpulan data dari unit-unit pelayanan ekstra gedung, seperti dari puskesmas pembantu, puskesmas keliling, juga dari klinik swasta. Aplikasi SMS atau komunikasi secara online melalui internet barangkali bisa menjadi sebuah opsi yang baik. Terkait rencana pemerintah untuk menerapkan wide area network (wireless fidelity/wifi dengan jangkauan yang lebih luas) maka ini juga bisa menjadi pertimbangan untuk digunakan sebagai jaringan penghubung dari berbagai unit pelayanan ekstra gedung dan klinik-klinik swasta.

Tentunya agar data dapat diintegrasikan secara berkesinambungan maka diperlukan kualitas jaringan yang baik dan hal ini membutuhkan perbaikan serta pemeliharaan yang terus menerus. Pemeliharaan ini tidak hanya ditujukan bagi jaringan tetapi juga bagi seluruh hardware yang diperlukan serta software yang dipakai. Pemeliharaan dan memerlukan petugas yang kompeten.

Idealnya untuk membangun dan memelihara system informasi diperlukan operator komputer, ahli jaringan, pengelola database, programmer, analis sistem dan IT Project Manager. Seiring dengan tahapan perkembangan SIMPUS maka peran dari masing-masing ahli akan bertambah dan berkurang secara bergantian. Keterbatasan SDM yang mempunyai latar belakang pendidikan teknologi informasi menuntut pihak manajemen puskesmas mempersiapkan petugas puskesmas untuk memahami teknologi dan system informasi yang digunakan.

Integrasi data dan informasi di puskesmas dimulai dengan proses entry data yang cepat dan akurat. Kecepatan dan akurasi entry data sangat tergantung kepada petugas. Petugas entry data di puskesmas adalah staf yang juga bertugas dalam pelayanan sehingga terjadi rangkap pekerjaan. Apabila jumlah pasien sedikit, entry data dapat dilakukan dengan segera, tetapi apabila jumlah pasien cukup banyak maka proses entry data masih dirasakan merepotkan. Pekerjaan entry data yang tertunda berpotensi mengurangi kelengkapan data dan terkumpulnya data secara real time. Dampaknya adalah integrasi data tidak dapat dilakukan dengan segera.
Setelah data terkumpul, maka data harus diolah agar menjadi informasi dan selanjutnya dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Pengolahan data memerlukan akses ke dalam database sehingga diperlukan interface bagi pihak manajemen yang memperlihatkan seluruh data yang terkumpul untuk diolah dan digunakan dalam pengambilan keputusan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: